Membimbing Naluri Cinta
Hakekat cinta
Tidak ada yang bisa hidup di dunia ini tanpa cinta. Hati tanpa cinta seperti tanah yang tandus, seperti taman tak berbunga.
Hakekat cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa, dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan kasih sayang.
Tahapan cinta
Kecintaan seseorang ada tahapanya. Ketika kita baru saja mengenal seseorang misalnya, tentu kita tidak akan langsung mencintainya, akan tetapi cinta itu tumbuh seiring dengan seringnya berintraksi, perhatian dan kebaikan-kebaikan yang akan memupuk cinta untuk bersemi.
Ilustrasi tahapan cinta yang mudah adalah sebagaimana cinta kepada lawan jenis. Orang arab menjadikan tahapan itu sebagai berikut,
1. Ta’aluq
Seseorang yang mencintai pada tahapan ini, maka dia akan selalu memikirkan, membayangkan dan mengingat terhadap siapa yang ia cintai.
2. Asyaq
Pada tahapan ini, hati orang yang mencintai akan meluap, seperti halnya air ketika ditumpahkan dari atas kebawah. Ia tidak bisa menguasai hatinya, sebagaimana tidak bisa menguasai air yang ditumpahkan dari atas kebawah. Iapun tidak mampu membendung ekspresi cintanya tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Qays ketika berjalan didepan rumah Laila, dia selalu mencium dinding rumahnya sambil mengungkapkan cintanya tadi dalam untaian sya’ir,
أَمُرُّ عَلَى الدِّيَارِ دِيَارُ لَيْلَى # أُقَبِّلُ ذَالجِدَارِ وَ ذَا اْلجِدَارِ
وَمَا حُبُّ الدِّيَارِ شَغَفَنيِ قَلْبِي # وَلَكِنْ حُبُّ مَنْ سَكَنَ الدِّيَارِ
Aku melewati sebuah rumah, yaitu rumah laila.
Aku cium dinding rumahnya dan selalu kucium
Bukan hati semata-mata mencintai keindahan rumah
Akan tetapi kecintaan kepada penghuninya.
3. Gharam
|
Semakin dalam cintanya sehingga sudah tidak bisa berpisah dalam waktu yang lama. Dia mulai rela berkorban untuk mempersembahkan yang terbaik untuk kekasihnya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, إِنَّ عَذابَهَا كَانَ غَرَامًا (الفرقان : 65 )
“ Sesungguhnya adzabnya Gharam”(Al-Furqan : 65)
Dalam ayat diatas dijelaskan tentang keadaan orang kafir yang tidak pernah terlepas dari adzab neraka. Seperti halnya seorang yang mencinta sampai pada tahapan ini sudah tidak bisa terlepas lagi dan ingin selalu berada didekatnya.
4. Saghaf
Tahapan ini merupakan tahapan cinta yang paling tinggi. Betul-betul cinta tersebut masuk kedalam hati yang paling dalam. Cinta itu mengalir bersama aliran darah. Seperti cintanya Siti Zulaiha kepada Nabi Yusuf as. Diceritakan dalam al-Qur’an,
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (يوسف: 23)
“ Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal dirumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya(kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata: “marilah kesini” dan Yusuf berkata :”Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik” sungguh orang-orang yang baik tiada beruntung (Yusuf: 23)
Begitu tinggi cintanya sehingga sampai menutupi akal sehatnya. Dan berani melakukan perbuatan yang dilarang Allah swt.
Mengukur kedalaman cinta
Kecintaan masing-masing orang kepada Allah berbeda. cinta tahapan pertama itu akan muncul ketika seseorang selalu berfikir, ingat dan membayangkan tentang Allah. Bukan tentang dzatnya. akan tetapi sifat-sifat, karunia, kenikmatan-kenikmatan, ciptaan-ciptaaNya, sehingga lebih mengenalNya.
Cinta itu akan semakin tumbuh ketika ada sesuatu yang ingin selalu dia korbankan. Banyak menghadiri majlis ta’lim misalnya, meskipun tempatnya jauh, panas, hujan, ataupun rintangan-rintangan lain tidak dirasakan karena apa yang ia lakukan adalah atas dasar cinta.
Semakin bertambah lagi cintanya sehingga setiap melakukan amalan, hatinya selalu berkata “apakah ini mendatangkan ridha Allah ataukah sebaliknya?”.dia akan selalu berusaha melakukan amal yang diridhai dan menjahui amal yang dibenci.
Bertambah lagi cintanya sampai betul-betul hatinya terpaut kepada Allah . Menjadikan seluruh cita-citanya hanya untuk mencari ridhaNya serta menjadikan hidup-mati untukNya. Seperti munajat seorang hamba berikut,
Tuhanku......................
Jadikan aku,
Jadikan aku,
Di antara orang-orang,
Yang kedambaannya,
Adalah mencintai dan merindukan-Mu,
Yang kedambaannya,
Adalah mencintai dan merindukan-Mu,
Tuhanku,......................
Kepada-Mu aku memohon,
Agar kau campakkan,
Cinta dunia dari hatiku,
Kepada-Mu aku memohon,
Agar kau campakkan,
Cinta dunia dari hatiku,
Perkenankanlah aku tuk dapat menggapai cintaiMU
Dengan segala daya yang mampu kulakukan, untuk meraih kehidupan dan kematian karenaMu.
Mereka yang tulus mencintai Tuhanya.
Nabi Musa
Kita lihat bagaimana kecintaanya kepada Allah swt. Apakah kita pernah mengatakan seperti apa yang dikatakan Nabi Musa??
وَ عَجِلْتُ إلَيْكَ رَبّي لتَرْضَى ( طه: 84)
“ Saya bersegera memenuhi panggilanMU wahai tuhanku agar Engkau ridha”(Thaha : 84)
Nabi Musa senantiasa bersungguh-sungguh dalam memenuhi panggilan Allah swt. Dia tidak pernah menunda-nunda untuk datang kepadaNya. Apapun perintahnya, besar atau kecil, dalam keadaan berat atau ringan, iapun bersegera untuk memenuhi panggilan tersebut karena cintanya yang sangat dalam kepada Rabbnya.
Kitapun bisa meniru nabi musa as. ketika diperintahkan oleh Allah swt. untuk memenuhi panggilaNya seperti shalat, zakat, puasa berdakwah dan lain sebagainya, maka kita mengatakan “saya segera datang memenuhi panggilanMU wahai tuhanku”
Nabi Muhammad
Tidak kalah kecintaanya kepada Allah adalah Nabi kita Muhammad saw. Beliau pernah bersabda,
جُعِلْتُ كُرَّةُ عَيْني فِي الصَّلَاةِ (أخرجه أحمد)
“saya jadikan kesenangan saya itu dalam shalat”(HR.Ahmad)
Tidak ada kesenangan lain yang melebihi kesenangan beliau terhadap shalat. Karena ketika shalat beliau bisa menjalin cinta dengan Allah, berkomunikasi langsung denganNya, yang membuat hatinya merasa tenang dan bahagia, melebihi kebahagiaan seseorang ketika melakukan rekreasi ke puncak atau ke mall atau ketempat-tempat hiburan lainya.
Beliau juga pernah bermunajat,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظْرِ إِلَى وَجْهِكَ اْلكَرِيْمِ وَ أَسْأَلُكَ الشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ.
“Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepadamu kenikmatan melihat wajahMu yang mulia dan meminta kerinduan untuk bertemu denganMu.”
Kita saksikan bagaimana Rasul kita menunjukkan cintanya. Menjadikan Allah satu-satunya yang paling terpaut oleh hatinya. Selalu ingat dalam setiap helaian nafasnya. Kerap menjalin kedekatan , mempersembahkan pengorbanan. Dan sudah tidak kuasa menahan kerinduan untuk bertemu denganNya.
Abdullah Bin Jahsy
Sebelum peperangan dimulai para sahabat berdo’a agar dirinya diberi kemenangan dalam menghadapi musuh-musuh lawan tandingnya. Namun apa yang dikatakan oleh sahabat ini dalam do’anya? Coba kita simak bersama.
Ya Allah......
Ketika perang nanti pertemukanlah aku dengan musuh yang pemberani.
Kita berperang, dan musuh tadi membunuhku, memotong hidung dan telingaku.
kemudian ketika Aku bertemu denganMu Engkau akan bertanya “kemana hidung dan telingamu”?
Lantas akan Aku jawab “ semuanya itu telah ku korbankan untukMu ya Allah”.
Sungguh luar biasa..! Dia meyakini bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan, semakin tinggi cintanya maka semakin besar pula pengorbananya. Akhirnya iapun benar-benar meninggal dalam kondisi yang ia inginkan dalam do’anya tersebut.
Mengelola cinta kita
Sudahkah kita membimbing perasaan cinta kita dengan baik? Siapa yang seharusnya diberi porsi cinta paling besar ? Sudahkah kita mencintai sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya?
Abdullah Nasih Ulwan menyebutkan tiga tingkatan cinta
1. Mahabbatul Ulya (Cinta yang tinggi)
Yaitu cinta kepada Allah dan RasulNya. Allah berfirman dalam surat At-Taubah,
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة : 24)
Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah:24)
2. Mahabbatul Wustha (Cinta menengah)
2. Mahabbatul Wustha (Cinta menengah)
Yaitu cinta kepada hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah dan Rasulnya. Diantaranya adalah seperti yang disebutkan dalam ayat diatas. Yaitu orang tua, anak ,istri, saudara, harta, rumah dan lain sebagainya. Dengan syarat kecintaan kepada hal-hal tersebut tidak melebihi kecintaanya kepada Allah dan RasulNya.
3. Mahabbatul Adna (cinta yang rendah)
Yaitu mencintai hal-hal yang diperbolehkan, akan tetapi kecintaanya melebihi cintanya kepada Allah swt. Akan lebih rendah lagi yaitu cinta kepada hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh Allah dan Rasulnya.
Renungan hamba tentang Cinta Allah
Sebetulnya cinta manusia kepada Allah tidaklah sebanding dengan besarnya cinta Allah kepada manusia. Kita akan mengetahui besarnya cinta Allah kepada manusia ketika kita mau bertafakur.
Diantara bukti kecintaan Allah kepada hambanya adalah,
ü Memberikan kepada manusia tempat tinggal dibumi.
Diantara sembilan planet yang ada, Allah swt memilihkan bumi sebagai tempat manusia untuk hidup dan berkembang-biak. Tidak bisa dibayangkan apabila Allah swt. Memilihkan bagi kita planet yang paling dekat atau paling jauh dengan matahari, tentu akan kepanasan atau kedinginan. Meskipun Nabi Adam as. telah melakukan kesalahan namun Allah tetap mencintainya dengan memberikan tempat yang terbaik baginya dan keturunanya.
ü tidak menyuruh mempercepat menulis amal jelek sebelum dilakukan.
Dalam hadist Rasul dijelaskan, apabila kita berniat jelek maka malaikat Atid tidak langsung mencatat sebagai amalan jelek, sampai terlaksana amalan tersebut. Akan tetapi malaikat Raqib mencatat amalan baik meskipun itu baru sebatas niat dan belum sampai terlaksana. Begitu juga setiap kebaikan yang kita lakukan ditulis sepuluh kali lipat, sedangkan kejelekan tidak ditulis melainkan seperti yang kita kerjakan.
ü mengampuni dosa dan dan menerima taubat hambanya
Allah berfirman:
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ )غافر:3)
“Pengampun dosa dan penerima taubat”(Ghafir : 3)
Ampunan dari Allah adalah bukti betapa kasih sayangnya mendahului murkanya, jikalau Allah langsung menghukum manusia karena kezalimanya, jika setiap kemaksiatan selalu berbuah adzab, niscaya tidak akan ada satu mahlukpun dimuka bumi ini.
ü memberikan pahala yang besar pada amalan-amalan kecil.
Contoh puasa arafah menghapuskan kesalahan kesalahan satu tahun yang lalu dan yang akan datang. mengucapkan subhanallah satu hari seratus kali akan mendapat seribu kebaikan, shalat dua rakaat fajar pahalanya lebih baik daripada dunia seisinya. Dan lain-lain.
ü Arti asma’ul husna yang menunjukkakn kecintaan Allah kepada hambanya.
Seperti Ar-Rahman (penyayang), Ar-Rahim (pengasih), Al-Ghafur(pemaaf), AT-Tawwab (penerima taubat), Al-Waduud (mencintai), Al-Karim (mulia), As-Syakur (pensyukur) dan lain sebagainya.
ü Mengabulkan do’a kita
Sebagaimana firmaNya,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (غافر: 60)
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".
ü Mempermudah kita
Firman Allah swt.
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا (النساء28 )
“ Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah”
Bentuk keringanan Allah tercermin dalam syare’atnya yang tidak memberatkan kita. Bahkan kerap kali diberikan ruhsah atau keringanan dalam kondisi yang menyulitkan. Dia tidak pernah membebani hambanya dengan tuntutan yang memberatkan yang tidak sanggup dipikulnya.
ü menyediakan surga bagi hamba-hambanya yang shalih.
Dalam hadist qudsi Allah berfirman,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِيْنَ مَالَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَي قَلْبٍ بَشَرٍ(أخرجه البخاري)
“Saya telah menyiapkan untuk hamba-hambaku yang sholeh (Syurga) yang mana belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas pada hati manusia(HR.Bukhari)
Hamba yang dicintai.
Ada beberapa tanda seorang hamba yang dicintai oleh Allah swt. Diantaranya adalah,
· Akan dilindungi dari dunia
Tidak dijadikan dunia menguasai dirinya. tidak dijadikan duapuluh empat jam selalu mengingat dunia , kalau selalu teringatkan Allah merupakan ciri-ciri kecintaanya. Rasul saw. Bersabda,
إِنَّ اللَهَ لَيَحْمِي عَبْدَهُ اْلمُؤْمِنَ مِنَ الدُّنْيَا كَمَا تَحْمُوْنَ مَرِيْضَكُمْ الطَّعَامَ وَ الشَّرَابَ تَخَافُوْنَ عَلًيْهِ. (الحاكم : 7465)
“Sesungguhnya Allah melindungi hambanNya yang beriman dari godaan dunia, sebagaimana kalian merawat dan menjaga orang yang baru sakit dari makanan dan minuman, sebagai bentuk kekawatiran kaliaan terhadapnya”
· Mutadayyin
Yaitu mempunyai kecenderungan untuk mempelajari agama, karena pada hakekatnya yang orang yang belajar agama itu merupakan proses menuju kepada mahabatullah.
النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِى الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّهُ وَمَنْ لَا يُحِبُّهُ وَلَا يُعْطِى الدِّين إِلَّا مَنْ أَحَبَّ وَ مَنْ أَعْطَاهُ الله الدِّين فَقَدْ أَحَبَّهُ ( أخرجه أحمد)
Nabi saw bersabda : “ sesungguhnya Allah azza wajalla memberikan dunia kepada orang yang ia cintai ataupun tidak ia cintai, akan tetapi tidak memberikan agama kecuali hanya kepada orang yang dicinta.dan barang siapa yang diberikan agama maka berarti telah dicintai.(HR. Ahmad)
Dalam hadist lain beliau bersabda “barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka dijadikanya Ia faham tentang agama”
· Dipermudah melakukan ketaatan dan sebaliknya.
Hatinya selalu cenderung untuk melakukan ketaatan, hidup bersama orang-orang yang taat kepada Allah dan setiap ingin melakukan maksiat seakan ada rasa khauf ( takut ) didalam hati, yang mencegahnya.
· Merasakan bimbimbangan Allah
Seperti firman Allah dalam hadist Qudsi,
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ. (صحيح البخاري : 6021)
“ Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengaranya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatanya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tanganya yang ia gunakan untuk memegang, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepadaKu, pasti aku mengabulkanya, dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan berikan perlindungan kepadanya. (Shahih Bukhari : 6021 )
· Dijadikan khusnul khatimah.
Diantara tanda kecintaan Allah kepada hambanya adalah di ambil nyawanya dalam keadaan beramal shalih, ada sebagian manusia yang selalu beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya akan tetapi ia meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah swt. naudzu billah min dzalik. Sebalikknya seorang pelacur yang mau memberi minum seekor anjing galak dapat memperoleh karcis masuk syurga.
